Hmm, benar kan? Setiap saya mau memposting sesuatu di blog ini nadanya akan selalu sama: kenapa sih waktu berlalu begitu cepat? Coba deh tengok ke kalender sekarang. Sudah bulan apa sekarang? Hedeeeeeh... *logat baru yang didapat setelah berkutat di Semarang* udah Maret cuy! Sementara tadi saya coba tengok di postingan terakhir tuh tanggal 18 Januari. Kemana saja, Zam kau selama ini? Maafkan aku, Mas Blogger dan Mbah Google, saya sebenarnya ingin sering-sering berkunjung, namun apa daya, jarum suntik dan segala hal tentang memberi obat membuat saya harus meninggalkanmu sejenak, sayang... *mulai lagi deh ngaconya*
Oke, tapi kali ini saya mau lanjutin postingan yang dulu. Emm, dulu saya cerita terakhir kali tuh pas lagi liburan semester ya? Nah, setelah puas liburan dan menyempatkan waktu untuk nongkrong bareng dengan cucu-cucu saya, saya mulai disibukkan kembali dengan perkuliahan. Istilahnya: "Semester Dua, aku dataang!". Di semester ini, jadwal kelihatannya tidak begitu sibuk, tapi sebentar! What? Hari Sabtu masih ada jadwal! Ampuun deh... Tapi untunglah, menurut dosen pengampu, hari Sabtu cuma kondisional aja, kalo ada kuliah ya masuk, kalo ga ya ga ada... Untung untunglah...
Langsung lompat ke bulan Februari aja, ya! Well, semakin lama kuliah di Poltekkes bagi saya semakin ber-progress. Mindset dulu yang "malas-malasan" untuk menata barang atau mandi dua kali sehari bersih-bersih sekarang sudah mulai luntur. Setidaknya juga saya sekarang kalau kemana-mana berusaha wangi. Eh, nggak nyambung ding. Tapi ada satu hal yang sempet bikin saya penat juga. Bukan masalah love atau cinta-cintaan, tapi (maaf kalau memang terlalu nerdy) masalah perkuliahan *terdengar tawa terbahak-bahak dari arah WC >>>ditemukan 6 wanita tewas mati terbahak-bahak dalam WC*
Iya, ripleys believe it or not! Saya bener-bener baru kali ini ngerasa marah banget sama hal-hal yang bersifat akademis. Bukan apa-apa sih, mungkin kalo di tempat lain, tanggung jawab tiap mata kuliah itu ya tanggung jawabnya para mahasiswa sendiri-sendiri, jadi individualitas memang sangat tinggi di situ, tapi di sini, dari awal perkuliahan sudah ada semacam komitmen untuk membentuk kelompok-kelompok yang bertugas terhadap suatu mata kuliah (selanjutnya disebut sebagai Seksi Pendidikan atau Sipen). Nah, seharusnya, kalau memang sudah ada komitmen seperti itu, tanggung jawab Sipen harus benar-benar dibuktikan dong! Sipen tidak hanya bertugas untuk memanggil dosen, tetapi menurut saya mereka juga harus mampu mencari materi perkuliahan serta menjadi manajer untuk memberitahu kejelasan jadwal perkuliahan.
Ada satu mata kuliah yang membuat saya jengkel. Sipennya hanya menyalahkan para dosen yang tidak ada waktu untuk mengajar, padahal kalau dipikir-pikir, ini tergantung cara mereka berkomunikasi dengan para dosen sehingga mereka mampu menjelaskan bahwa dosen tersebut benar-benar dibutuhkan. Jadwal semrawutan (acak-acakan) terkesan dibiarin gitu aja, ntar pas tiba waktunya hari tua, seenaknya saja bikin jadwal. Belajarlah menjadi manajer yang baik, woi!
Sebetulnya saya nggak akan marah-marah seperti ini apabila tanggung jawab mata kuliah itu ada pada saya, karena saya yang wajib untuk kejar tayang. Tapi kan ini sudah disetujui dan disepakati secara tidak langsung di awal bahwa Sipen menjadi tumpuan buat mahasiswa lain untuk tiap mata kuliahnya. Saya sempat diceletuki oleh seseorang,"Ya Udah! Jangan ngandelin sipen!". Bukannya saya mau mengandalkan, tapi saya ingin tahu aja seberapa gede sih mereka komit dan tanggung jawab sama anggukan mereka? Kalau memang tidak mampu, gelengkan dong kepalamu!
Saya sempat berpikir sangat kotor dan negatif bahwa ada yang mau ngejatuhin saya. Ini bukan tidak beralasan! Bayangin aja, saya selalu berada di posisi yang "salah tempat". Menjadi kelompok dalam suatu mata kuliah yang selalu diberi jarkom mendadak atau tidak jelas entah itu untuk presentasilah, dramalah atau yang lain. Kejadian ini dulu pernah juga (di mata kuliah yang sama) di semester satu, tanpa berita A, B, C atau D, malam hari pukul 20.00 ada jarkom yang menyuruh kelompok saya besok pagi jam 08.00 presentasi! Apa gak mampus tuh?! Yang membuat saya merasa dijatuhkan adalah ketika kelompok lain suatu saat pernah disuruh presentasi dadakan, yakni diberi waktu selama satu jam mengerjakan presentasi tersebut. Setelah kejadian itu, tiba-tiba saja seperti ada yang terkesan "KELOMPOK LAIN HARUS MERASAKAN APA YANG KELOMPOK SAYA RASAKAN", sehingga seenaknya saja ketika ada penugasan.
Entahlah, prasangka saya ini terlalu kotor dan negatif, saya yakin gak banyak yang bisa paham, tapi ya sudahlah, inilah saatnya belajar dewasa. Saya cuma menyikapinya dengan ngelus dada. Marah iya, saya sempat keluarkan kemarahan saya, tapi itu karena saya benar-benar frustasi. Kenyataannya? Gak ada satu pun yang pernah mau ngerti sebenarnya saya kenapa. Ketika saya mau cerita, gak ada yang mau dengerin. Mereka sibuk ngobrol dan mengalihkan pembicaraan yang ingin saya buka. Sakit tau dicuekin kayak gitu! Sampai akhirnya saya benar-benar ngerasa seorang diri di sini. Coba aja tengok, ketika saya duduk aja jarang yang mau bersebelahan dengan saya. Padahal saya cuma pengen didenger, tapi mereka-mereka yang ada di sana seolah datang ketika mereka butuh saja. Kata-kata yang tajam kan? Kalau hati kamu merasa benar-benar tertusuk, berarti kamu memang telah melakukan kesalahan pada saya.
Berada di posisi yang selalu disalahkan memang tidak nyaman. Dan sekarang kamu merasakannya kan? Selama ini saya selalu saja berusaha mengalah atas tindakan-tindakan yang dianggap salah. Hati rasanya pengen banget teriak, tapi selalu aja jawabannya: KAMU ITU SALAH, ZAM! Meski pun nggak secara langsung ngomongnya, tapi saya bisa tahu banget itu maksudnya.
Penat, muak dan bosan sudah. Saya udah ga mau peduli sama mereka yang ga peduli dengan saya. Ada orang yang hanya suka cari-cari muka dan perhatian saja, bikin saya pengen nendang bokongnya dari lantai dua lalu saya bakar habis dia. Tidak hanya itu, ada orang yang suka menghina, tapi ketika saya balik hina langsung kalapnya bukan main.
Tapi...
Terimakasih Tuhan. Kau telah ciptakan bumbu-bumbu ini dalam hidup saya. Sekarang sudah saatnya dinamis. Prinsip saya tidak boleh berubah. Pada dasarnya, sekecil apa pun kesalahan orang, kalau orang itu mau mengakuinya, saya sangat menghargainya. Namun ketika justru kau menyalahkan orang lain dan sibuk membela diri atas kesalahan dirimu sendiri, itu yang akan saya masukkan dalam daftar orang-orang mengecewakan versi saya.
Refleksikan. Apa yang kamu rasakan sekarang? Jika kamu merasa sangat terpukul membaca apa yang sudah saya tulis ini, mungkin saja kamu telah menyakiti saya. Tapi jika kamu biasa saja, maka kamu adalah teman saya, jadi take it easy, curhatan ini hanya untuk orang-orang tertentu saja, oke?
Well, sudah saatnya istirahat. Besok lagi ceritanya! ^_^

0 Comments:
Posting Komentar