Praktik di Rumah Sakit

Bulan Mei kemarin boleh dibilang sebagai bulan 'pengalaman pertama' saya untuk bekerja di Rumah Sakit. Emm, kayaknya jelek ya kalau disebut bekerja? Ralat deh, maksud saya belajar. Gairah saya untuk menjadi perawat rupa-rupanya sudah semakin solid saja. Mudah-mudahan sih gitu, betapa tidak? Waktu di Rumah Sakit kemarin banyak hal yang kadang membuat saya sering berpikir dua kali: apa benar saya akan menjadi perawat. Tapi alhamdulillah, motivasi selalu datang untuk meyakinkan pada saya bahwa inilah jalan saya: menjadi perawat!

Praktik pertama kali di semester 2 ini saya kebagian di Rumah Sakit Kota Semarang, orang-orang biasa menyebutnya sebagai RS Ketileng (karena lokasinya yang berada di daerah Ketileng). Selayaknya mahasiswa yang baru pertama kali praktik, dua hari sebelum hari H (mulai praktik tanggal 2 Mei 2011, berarti hari yang dimaksud adalah hari Sabtu) saya merasa begitu was-was. Iya, di hari itu jam 9 sebenarnya udah ada orientasi Rumah Sakit (kegiatan paling awal untuk memulai praktik RS). Durasi praktik ini adalah 1 bulan penuh. Teknisnya, kita udah dibagi dalam beberapa kelompok, kemudian kelompok-kelompok itu akan rolling atau berpindah ruangan setiap minggunya, jadi total ada 4 ruang yang akan kita lalui selama praktik.
Di RS Kota Semarang, ada 4 ruang, semuanya diberi nama pewayangan. Ada ruang Prabu Kresna, Parikesit, Yudhistira dan Bima. Dan apa yang saya sebutkan tadi adalah urutan rolling ruangan saya. Well, hari pertama.. 2 Mei 2011, di ruang Prabu Kresna! Di ruang ini kebanyakan pasien adalah pasien-pasien 'bedah', istilahnya gitu, dan memang pasien-pasien tersebut adalah pasien yang akan dilakukan operasi atau baru dilakukan operasi. Jadi luka bekas operasi banyak ditemui di sini. Di hari awal, saya benar-benar canggung luar biasa. Fase krik-krik-krik bener-bener kerasa banget! Iya, karena ini bener-bener baru pertama kali masuk RS, jadi ga tau mau ngapain. Ada beberapa praktikan (mahasiswa praktik) lain, untungnya mereka ternyata juga sama-sama baru pertama kali, jadi syukur deeh, ada temennya. Saking groginya, tugas utama perawat pertama kali sampai lalai! Apa coba? Harusnya saya melakukan pengkajian ke pasien-pasien untuk tahu keluhan mereka, eeh saya malah membuntuti para perawat dan praktikan lain untuk melakukan sesuatu hal. Yaah, gapapalah, itung-itung sambil cari pengalaman. Ada tindakan yang diistilahin GB alias ganti balut, itu lho, perawatan luka buat ganti balutan luka (lebih enak bilang balutan daripada pembalut, hahaha).

Selama seminggu di R. Prabu Kresna, saya masih terlihat sangat amatir. Tindakan terbanyak yang dilakuin paling juga mbenerin infus sama perbedden (maaf kayaknya salah itu tulisannya). Alhamdulillah juga pasien-pasien banyak banget yang welcome sama saya. Jadi kerasa deket aja. Cuman ada beberapa hal yang benar-benar bikin saya sedih. Itu tuh contohnya, ketika Co-as Dokter (mahasiswa kedokteran yang praktik) sama perawat-perawatnya justru dihormatin. Harusnya perawat-perawat itu membimbing adiknya, para calon penerusnya, malah saya merasa kayak dicuekin. Ah, batu loncatan buat ntar pas jadi perawat buat terbiasa sama rekan kerja kali ya. Hehehe..

Seminggu kedua saya ketiban jatah di R. Parikesit, di ruang ini pasiennya adalah anak-anak. Tindakan yang banyak dilakukan juga masih sedikit, cuma itu-itu aja. Jadi langsung aja ya kita ke minggu ketiga, di R. Yudhistira. Di R. Yudhistira, sudah mulai variatif. Kesibukan kerasa banget, mondar-mandir sana sini. Ada pasien dengan AIDS juga, ada hepatitis.. Wah, harus bener-bener ekstra perlindungan diri. Di sini ada satu pasien dengan keluarga yang bener-bener (boleh dibilang) 'didongkoli' sama semua praktikan dan perawat. Well, meski gitu, kita semua tetep berusaha memberikan pelayanan yang terbaik. Gimana engga? Keluarga pasien marah-marah mulu sama perawatnya, tiap perawat ngelakuin tindakan juga g dipercaya gitu aja. Salah apa sih kita, Bu? Tapi jatah dia ketemu sama dokter aja, dokter bilang dikit udah hooh hooh aja. Sedihnya.. Tapi gapapa, itu bisa jadi batu loncatan lagi. Memang, menjadi perawat itu harus bisa ekstra sabar menghadapi klien yang bermacam-macam. Tentu saja ga boleh nunjukin sikap marah di depan pasien. Mulianya pekerjaan ini!

Oh iya! Di ruang ini saya juga merawat pasien meninggal dunia. Baru pertama kali ngeliat adegan kayak di sinetron-sinetron dimana alat pendeteksi jantungnya lempeng-lempeng gitu grafiknya. Hoho.. Sedih juga tapi pas ngeliat pasien meninggal di depan mata. Dan lagi-lagi ekspresi perawat harus netral!

Minggu terakhir praktik di RS Kota Semarang adalah di R. Bima. Dan di akhir minggu ini juga ada evaluasi klinik. Dan tebak apa! Saya mengalami kejadian yang gyakakak! Boleh dibilang sedikit malu-maluin. Jadi ceritanya gini, waktu itu Kamis, 26 Mei 2011 kelompok saya akan diuji oleh dosen dan pembimbing klinik. Kasusnya diacak, jadi pasiennya juga dapet acak pada waktu itu juga dan kita diharuskan langsung mengkaji pasien untuk tahu kira-kira tindakan apa yang akan diterapkan. Dan.. Demi selang infus macet! Saya dapet pasien yang ketika saya tengok ternyata dalam keadaan tidak sadar! Huwaduh.. Akhirnya saya pun mengkaji pasien dengan wawancara ke keluarga. Setelah semua selesai dilakukan, saya kembali ke ruang perawat dan mengira-ira tindakan apa yang akan saya lakukan. Dan gotcha! Karena pasien ini sedang dalam keadaan tidak sadar dan ada beberapa data yang menunjukkan bisa terjadi kemungkinan kebersihan mulutnya tidak terjaga. Dengan mantap saya pun memilih ORAL HYGIENE alias membersihkan mulut pasien untuk ujian evaluasi klinik kali ini! Lantas saya pun menuju pasien, dengan meminta dosen dan pembimbing klinik sebelumnya untuk pengawasan. Semua peralatan siap, beres.. lalu saya jelaskan ke keluarga tentang tujuan dan prosedur tindakan. Mulai tindakan.. Lantas saya akan membuka mulutnya.. Lantas.. eww! Kok susah dibuka ya mulutnya? Saya sedikit paksa.. Ow.. ga bisa juga. Bismillah... HIYAAAK.. Kebuka! Dan...

O'ow...

GA ADA GIGINYA!!

Oh my gosh! Demi karet handscoen bolong! Saya tadi lupa mengecek apakah gigi pasien masih ada atau engga. Dan alamak! Mau bersihin mulut gini, kalau ga ada giginya mau gimana? Matiiik.. Padahal udah ada dosen sama pembimbing klinik. Dan akhirnya...
Tuhan memang selalu melindungi umatnya yang baik, tiba-tiba dosen berkata 'Itu susunya mau dikasihkan kapan, Bu?', dan pembimbing klinik menjawab,'Oh sekarang juga bisa'. Dosen pun.. 'Ya udah, Zam, berikan makanan lewat selang NGT saja'. Alhamdulillah! Untung saja..

Kira-kira begitulah pengalaman saya selama praktik satu bulan. Tips yang akan saya sampaikan pada mahasiswa yang baru pertama kali praktik di Rumah Sakit adalah:

1. Percaya diri ketika pertama kali masuk ruangan, sapa semua orang yang ada di situ dan perkenalkan diri sebaik-baiknya.

2. Langsung menuju ke pasien untuk mengetahui kondisi pasien. Berhubung tipe kebanyakan ruang di rumah sakit Indonesia adalah bangsal dengan sejumlah pasien, ada baiknya keliling dan tanya beberapa aja.

3. Sama kakak perawat yang udah kerja di situ jangan sungkan untuk bertanya. Biasanya ada yang mengajak interaksi, tapi ada yang baru respon ketika kita yang minta untuk interaksi. Salah tidak masalah, katakan bahwa kita sedang belajar.

4. Inisiatif buat melakukan tindakan. Di rumah sakit, praktikan ga ada bedanya sama perawat, harus bisa inisiatif tapi jangan lupa memberitahu ke perawat tentang tindakan yang hendak kita lakukan.
Kalau ada tindakan rumit yang kita belum bisa, ikut dan lihat saja dulu. Pelajari dengan seksama, besok-besoknya kalau sudah bisa kamu bisa lakukan secara mandiri.

5. Rajin-rajin menulis asuhan keperawatan. Tentu saja kalau masih bingung kamu bisa menanyakan ke perawat tentang menulis askep yang baik. Tapi berdasarkan pengalaman penulis (cieeh bahasanya wagu), ada beberapa perawat yang menulis askep sekenanya saja. Nah, sebagai calon perawat yang baik dan professional, tulis askep dengan sebelumnya lakukan pengkajian ke pasien dulu. Cari data selengkap-selengkapnya untuk nantinya kita tegakkan diagnosa keperawatan. Nah, ingat! Kita harus bener-bener paham tentang diagnosa keperawatan. Saya aja baru tersadar dan insyaf setelah masuk RS, jangan sampai nyesel ntar bingung negakin diagnosa keperawatan. Kayak ibu Carpenito bilang, perawat adalah penegak diagnosa! Awalnya memang agak-agak membingungkan, tapi lama kelamaan kayak puzzle yang asyik banget buat dipecahin teka-tekinya lho!

6. Selalu senyum tiap ketemu pasien. Sapa mereka dengan pembawaan yang menyenangkan. Kadang ada beberapa pasien yang tidak kooperatif, sebaiknya kita lebih banyak diam tetapi menjelaskan tiap tindakan yang kita lakukan, tujuannya adalah untuk memenuhi hak pasien dan kewajiban kita sebagai perawat. Pada keluarga juga demikian halnya, untuk mempererat komunikasi sosial kita, kita bisa ngobrol ringan sama keluarga supaya suasana tidak terlalu tegang.

7. Kenali juga lingkungan rumah sakit. Sering-sering mau kalau disuruh ke laboratorium, ruang radiologi, apotek atau ruang lain supaya hapal seluk beluk rumah sakit, ga lucu kan kalau ntar ketemu orang terus ditanya ruang inu dimana kita ga bisa jawab.

8. Lakukan setiap tindakan sesuai dengan apa yang sudah diajarkan. Belajar di rumah sakit sama halnya dengan belajar menjaga prinsip. Prinsip-prinsip yang sudah kita dapat harus benar-benar kuat dipertahankan. Karena banyak sekali kejadian yang membuat kita berkata,"Lho? Kok kayak gini! Harusnya kan gini?", dan dengan entengnya kadang ada yang bilang,"Deal with it! Praktek sama teori itu beda!". Iyaa.. beda sih beda, tapi tentunya teori itu kan ada prinsipnya. Nah, prinsip itu yang kita pakai, bukan mutlak teorinya. Beda boleh aja, tapi jangan sampai keluar dari: prinsip.

    Tampaknya itu aja yang mau aku share tentang pengalaman praktik di Rumah Sakit. Menyenangkan? Tentu aja! Dan setelah sebelumnya saya sempat bimbang, "jadi perawat yah?" sekarang saya mau mantap: "yes! Saya Nurse Barzam Fathan, siap merawat orang sampai sehat!". Ayolah terima saja! Kamu kaya, kamu pintar, tapi kalau kamu ga sehat? Mau ngapain kamu?

    3 Comments

    Designed by OddThemes | Blog by Barzam