What The True Love Is



KAMIS - 16 JUNI 2011

Hmm.. Udah bulan Juni lagi. Padahal lihat aja jumlah posting saya di blog ini yang cuma baru beberapa biji aja. Haha, sungguh keterlaluan. Tapi biarlah, yang penting bisa mencurahkan hati kapan saja di sini. Baiklah, sekarang saya mau cerita tentang kejadian belakangan ini. Dengan perasaan yang sedikit gelisah karena takut galau lagi, tapi gapapa lah, saya coba dulu buat cerita di sini. Siapa tahu justru malah jadi lega.

Beberapa minggu terakhir di bulan Mei waktu praktik kemarin, saya dapat kenal seseorang di Facebook. Anehnya, ternyata kita udah jadi teman di Facebook sejak lamaaa banget, cuman saya baru sadarnya belakangan itu. Dia online, mari kita sebut saja namanya Didy:

Saya :
Hai! Apakah kita kenal?

Didy :
Kayaknya aku pernah lihat kamu
Dulu SMA 1 kan?

Saya :
Iya, kok tahu sih? Hwee.. Salam kenal dulu, aku Zam.

Didy :
Iya, kayaknya pernah lihat dulu waktu ke sana

Saya :
Oo..
Aku panggil kamu apa nih?

Didy :
Terserah..
Kalau temen-temen biasanya panggil unknown-character
Kalau yang udah akrab biasanya panggil unknown-character
Kalau kakak biasanya panggil baby..

Saya:
Kalau gitu aku panggil kamu baby ya

Didy :
Brati jadi kakakku dulu

Saya :
Iya, aku mau jadi kakamu

Didy :
Boleh

Saya :
Eh, aku off dulu ya. Sambung lagi kapan-kapan di Message.

Didy :
Oke tapi ga langsung dibales ya

Saya :
Barzam is now offline

Begitulah kira-kira awal perkenalan saya sama Didy di Facebook. Esok paginya saat bangun tidur, saya lihat di hape ada unanswered call. Siapa tuh malem-malem miscall. Terus saya sms ke nomornya, ini siapa? Eh kemudian dibales: Didy. Hahaha, ternyata itu anak. Dan sejak itu pula saya sering intens buat smsan sama tu anak. Gambaran saya, dia pasti anak yang baik. Tahun ini dia lulus dari SMK.

Banyak cerita yang dia bagikan kepada saya. Lumayan terharu juga denger dia udah ga punya Bapak dan harus berjuang buat apa-apa sendiri, termasuk nerusin setelah dari SMK ini. Dia rencananya mau kuliah, tapi berhubung masalah biaya, akhirnya dia memutuskan buat kerja dulu. Saya sih merekomendasikan dia seandainya dia ingin kuliah mendingan masuk STAN aja (tentu pada manggut-manggut setuju kan?). Well, kadang dalam hidup ini saya harus benar-benar menjadi orang yang pandai bersyukur. Bagaimana tidak? Tuhan serasa selalu mengirimkan jiwa-jiwa malaikat yang bisa menginspirasi saya setiap saat. Kehadiran Didy dalam hidup saya menjadi motivasi buat saya untuk bisa membalas jasa kebaikan orang-orang yang saya sayangi selama ini. Lihat saja anak itu, melalui cerita-cerita yang sering diutarakannya, walau hanya sebatas lewat sms, tapi saya bisa merasakan bagaimana perjuangan untuk bisa meraih mimpi. Dan karena itu pulalah, saat ini saya memantapkan diri untuk selalu berbuat kebaikan dengan senantiasa meminta perlindungan-Nya.

Seusai praktik rumah sakit, dan memasuki bulan Juni, saya senang sekali karena saya akan pulang ke Wonosobo dan berharap bisa ketemu sama Didy. Dan benar saja waktu itu saya mengajak dia untuk pergi main bareng. Tanggal 1 Juni 2011, hari Rabu, saya pulang ke Wonosobo. Suasana Wonosobo yang asri memang sangaaat meneduhkan! Saya sms ke Didy kalau saya udah pulang, lalu saya katakan ke dia saya pengen ketemu sama Didy. Dia setuju-setuju aja. Hari Jumat saya iseng sms ke dia, "main yuk!" tapi dia bilang kalau hari Jumat tu tanggung jadi dia menawarkan ke saya gimana kalau hari Sabtu aja. Oke deh, saya jawab gitu. Dan hari Sabtu itu, saya janjian sama Didy buat ketemu di  Alun-alun Wonosobo jam 9. Hari Sabtunya, saya bareng Whitney dateng ke Alun-alun. Di sana saya duduk nungguin dia. Well, harap-harap cemas dia jadi datang atau tidak, saya tunggu sambil dengerin musik. Yah, macem artis lip-sync saya cengap-cengop aja ngikutin musik yang saya dengerin itu. Saya cuma sms sekali ke dia, "kalau udah sampai sms ya, aku di sini". Lamanya hampir satu jam saya menunggu dia. Well, hampir-hampir saya salah orang! Waktu pertama kali datang tadi, saya kira dia sudah datang duluan, orang itu duduk membelakangi arah saya datang. Karena saya pede, saya kejutin dia karena saya yakin betul dari posturnya itu Didy (saya udah ngeliat foto-fotonya soalnya), eh begitu tu orang nengok.. TERNYATA BUKAN! Alamak.. Udah kayak udang rebus aja saya malu setengah mateng!

Akhirnya dia sms, "udah selesai nih, wait me." Dan saya pun menunggu kedatangannya. Sekitar sepuluh menit kemudian (berarti jam 10.10) dia dateng. Saya senyum ke dia lalu, "akhirnya ketemu juga ya!" sambil salaman. Dan seharian itu saya hang out bareng Didy. Jalan muter-muter kota, pokoknya sambil saya bernostalgia aja deh.

Tak disangka, hari itu dia juga mengajak saya untuk pergi ke rumahnya. Sebenarnya ini di luar rencana. Tapi okelah. Kita berangkat dari Alun-alun, naik motor sendiri-sendiri, dan berhubung rumah dia deket dengan telaga Menjer, saya minta ditemenin buat ke sana dulu. Kita pun ke Menjer, yah, keliling-keliling ga jelas gitu (sesuai permintaan saya yang emang gaje, hahaha). Suasananya teduh, dan bisa dibilang orang-orang yang ngeliat kita pasti menduga hal yang tidak-tidak. Hahaha! Cuek aja! Sambil duduk di tempat yang lumayan enak pemandangannya kita lanjut ngobrol-ngobrol. Lagi-lagi dia cerita ini itu yang bikin saya sempet "hmm.. mau ngomong apa yaa". Beberapa saat kemudian tiba-tiba hapenya bunyi, rupanya telpon dari Ibunya yang menyuruh dia pulang. Yaaah, agak kecewa sih, tapi dia bilang, "lanjutin ngobrol di rumah aja yak!" dan saya pun semangat lagi.

Kita berangkat lagi ke rumahnya. Situasi rumahnya ternyata nyamaaan. Mengingatkan saya sama pengalaman kecil saya ketika diasuh sama pengasuh saya. Iya, dulu waktu kecil saya memang diasuh sama pengasuh. Sedihnya, beliau sudah meninggal. Usianya waktu meninggal dulu sama seperti saya saat ini, sembilan belas tahun. Kangen sama dia, pengasuh saya. Waktu kecil saya sering bermain di rumahnya, mengerjakan hal-hal yang anak-anak kecil biasa lakukan: bermain. Haduh! Kenapa bernostalgi gini, hehe.. Lanjut yak! Jadi di rumahnya Didy itu kita lanjut ngobrol. Sebetulnya masih agak-agak canggung buat ngomong banyak, karena ini awal pertemuan kita. Bisa dipastiin lah saya dan dia mau ngomongin topik apa juga bingung. Hehe. Tak berselang lama kemudian Ibunya datang. Ibunya ternyata tipikal orang yang ramai. Hahaha, suasana rumah waktu itu hangat, Ibunya rupanya baru mengambil pengumuman kelulusan adiknya Didy yang baru lulus dari MTS. Yah, di rumah itu saya juga lagi-lagi terinspirasi banyak hal. Tentang bagaimana keluarga menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Itu sebabnya mengapa saya paling tidak suka untuk keluar rumah terlalu sering, kala liburan, saya pasti akan lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Mendekatkan diri pada keluarga yang saya sayangi.

Akhirnya sekitar pukul 14.00 saya pamit pulang. Didy bilang untuk tidak kapok main-main ke rumahnya. Saya hanya senyum simpul. Sebetulnya ada sedikit guncangan dalam hati saya yang kadang berpikir tidak-tidak mengenai Didy. Kadang saya merasa ingin menjadi seseorang yang berarti buat Didy, tapi saya merasa tentu dia sudah punya orang yang lebih berarti buat dia. Makanya setelah pertemuan dengan Didy yang pertama itu saya merasa ingin lebih dekat dengan dia, tapi hati rasanya galau kalau membayangkan "siapa saya buat dia?!". Sedih menghadapi kecamuk hati seperti itu. Sejenak saya larutkan pikiran saya untuk tidak begitu memikirkan Didy. Kadang saya ingin menjadi kakak sesungguhnya buat dia. Tapi saya bisa ngapain? Bantu dia aja kayaknya susah banget buat saya. Saya belum mandiri sepenuhnya. Dari ceritanya, Didy mengatakan pada saya kalau dia dalam waktu dekat mau ke Jakarta untuk kerja. See that? Saya bilang ke dia, ya, apa pun yang terbaik saya pasti akan dukung. Jangan sampai saya kalut! Saya waktu itu berpikir: berarti dalam waktu dekat, saya juga akan jaraaang ketemu Didy. Oh tidak tidak! Saya harus mengurangi intens pikiran saya tentang Didy, bisa-bisa waktu mau berpisah nanti saya bakal sedih banget. Makanya saya kemudian tidak begitu memikirkan Didy.

Tanggal 5 Juni 2011 saya berangkat lagi ke Semarang untuk mengurus herregistrasi dan mengambil hasil studi saya di semester 2 ini. Di tanggal 6, kelas saya mengadakan acara malam keakraban. Tadinya rencana saya tanggal 6 akan menyelesaikan urusan herregistrasi, setelah selesai kemudian saya bisa ikut makrab dan selanjutnya pulang ke Wonosobo lagi untuk liburan. Yup, liburan memang dimulai dari tanggal 6-18 Juni 2011. Tapi apa yang namanya rencana kadang tidak sesuai dengan kenyataan! Apes, ternyata tanggal 6 proses herregistrasi belum bisa dilakukan. Walhasil, saya harus menelan liur dalam-dalam untuk tidak pulang dalam waktu dekat ini. Apa boleh buat?

Makrab yang Menyenangkan!
Tanggal 6 pukul 14.00 saya akhirnya berangkat bareng temen-temen ke Bandungan untuk malam keakraban. Yah, saya tidak akan berkomentar banyak tentang acara ini. Saya hanya merasa gundah aja, ada sesuatu yang membuat saya tetep merasa kesepian meskipun rasanya di acara itu ramaaii sekali. Teman-teman saya serasa ceria semua, kadang saya melihat pembauran mereka terasa kental sekali, tapi saya heran saya tidak mampu merasakan itu semua. Belum ada seseorang yang mampu membuat saya merasa dekat dan kenal mereka seutuhnya.

Ternyata saya tidak bisa untuk tidak memikirkan Didy.

Saya berusaha mengalihkan pikiran saya dengan ikut kesibukan temen-temen tapi tetap saja ada sesuatu yang mengganjal hati saya. Selama hari itu pula saya tidak sms Didy atau menghubunginya. Rupanya saya takut untuk tidak bisa bertemu dia. Dan keesokan harinya, tanggal 7, yang harusnya acara makrab harus selesai pukul 11.00, saya pamit pulang pukul 09.30. Tujuan saya adalah menyelesaikan proses herregistrasi dan mengambil KHS supaya besok saya bisa langsung pulang ke Wonosobo. Alhamdulillah, doa saya didengar Tuhan, hari itu proses herregistrasi lancar dan KHS saya dapatkan. Alhamdulillah, IPK saya bagus! Sore itu, sekitar jam 4 saya akhirnya sms Didy untuk sekedar bertanya sedang apa. Mungkin karena pikiran saya yang kalut, saya bertanya ke dia apakah besok kita bisa ketemu atau tidak. Dalam hati saya, seandainya bisa, maka saya akan pulang sore itu juga dan selanjutnya saya mau sering-sering ketemu dia! Tapi dia balas sms saya: "Mas tpi kykx besok tu aq bakalan sibuk bgd". Hmm.. Ya sudahlah, jika demikian saya kemudian balas smsnya: "ok, kapan-kapan aja". Malam itu saya tidur sambil berusaha menghilangkan pikiran saya untuk menyudahi saja angan-angan yang tidak-tidak.

Tanggal 8 Juni 2011, saya kemudian pulang ke Wonosobo. Dengan perasaan agak lesu, pagi-pagi saya berangkat. Melalui Bandungan, dinginnya merasuk tulang. Ga tau kenapa saya merasa sedih. Sepanjang perjalanan itu menjadi perjalanan yang sangat dingin. Setibanya di Wonosobo saya hanya merebah-rebahkan diri saja sambil mengalihkan perhatian tentang Didy dengan sibuk mengurusi tugas organisasi. Untunglah bisa fokus. Hari Rabu itu menjadi ordinary day. (Musik play: Vanessa Carlton - Ordinary Day)


Tanggal 9 Juni 2011, saat itu saya sms ke Didy. Kali ini perasaan saya sudah tidak begitu berlebihan lagi. Sekedar bertanya kabar. Tapi saya juga ingin menceritakan sesuatu ke dia tentang bagaimana kuat keinginan saya untuk sesesering mungkin ketemu dia sebelum dia berangkat. Tapi rupanya dia lagi sakit, sms saya dijawabnya singkat: "...maaf mas aku pusing banget nih mau tidur". Saya pun balas saja ":) Oke, met istirahat". Sambil kembali hati saya berkecamuk!

Dua hari selanjutnya menjadi hari-hari biasa dimana saya diliputi rasa gundah yang sangat karena dalam hari yang seharusnya saya bisa saja mengajak Didy untuk bertemu tapi saya tahan karena saya merasa "sudahlah, seandainya kamu malah ketemu, justru kamu susah buat nanti kalau dia berangkat pergi". Ya, dan kegalauan saya selalu saya coba usik dengan membuat kesibukan-kesibukan tertentu. Hingga waktu itu tanggal 12 Juni 2011, dia sms ke saya "Mas kapan kamu main ke tempatku lagi". Saya pun balas "kapan yaa.. Pengen sih di, besok gimana?". Dia jawab "tapi besok aku ada urusan". Dan saya pun dengan tidak bersemangat membalas "Oh, ya kapan-kapan aja" sambil berharap sms saya tidak perlu dibalas. Tapi dia membalas "emang kalo sorenya ga bisa ya?". Saya pun membalas "Oke deh, aku usahain. Jam 2 aku ke situ". Dia membalas "Ya besok kalo aku udah dirumah tak sms". Kubalas "aku harap kita bisa ngobrol lama". Dan dia jawab "insyaallah".

Jujur, waktu itu rasanya senang tapi ada juga rasa ga enak karena kayaknya bakal ada sesuatu yang lain. Hmm.. Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa saya kok pengen banget bisa ketemu dia sering-sering? Itu karena saya merasa dia berbeda dan saat saya dekat sama adik baru saya itu ada sedikit kenyamanan dalam hati. Rasanya sama ketika kamu mendapat air saat kamu kehausan. Dari dia saya banyak belajar tentang bagaimana menyayangi dan bersabar. Karena itulah, saya yakin seandainya saya bisa semakin dekat dengan dia, saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Bukankah selama hidup, kita harus dekat dengan orang-orang yang menginspirasi dan mengajarkan kepada kita tentang kebaikan? Meskipun secara tak langsung?

Selang sesaat kemudian, dia sms ke saya, "lha kamu sekarang dimana si?", aku jawab "di rumah". "Lha mbok main ke tempatku" katanya. Kujelaskan hari itu saya sedang menjaga adik. Lalu saya tanyakan ke dia, "hari rabu bisa main lagi ga?". Dan jawabnya.. "Aku udah di Jakarta lah".

Kamu tahu gelas yang jatuh dari ketinggian akan bagaimana? Rasanya seperti itu.

Tuhan dengan baik mengirimkan inspirator kepada saya, dan dengan baik pula dia mengajarkan kepada saya untuk lebih menahan diri dan bersabar ketika inspirator itu harus dipisah dari saya. Saya hanya termenung, dan mencoba okelah, gapapa, yang penting besok ketemu.

Dan hari Senin, 13 Juni 2011. Saya bertandang ke rumahnya ketika dia sms "mas? Jadi ketempatku ga? Aku udah perjalanan pulang". Saya meluncur ke sana. Daerah rumahnya dingin, saya sengaja tidak mengenakan jaket untuk mendinginkan hati saya yang memang kerasa panas karena terlalu berkecamuk. Memang berpengaruh sedikit, karena pikiran saya jadi teralihkan pada suasana yang dingin. Setibanya di rumahnya. Dingin sekali melihat wajahnya. Rasanya sudah lama tidak melihatnya secara langsung. Suaranya yang khas juga menyapa saya. Dipersilakannya saya masuk dan kita mulai ngobrol-ngobrol. Dia mengeluh tekanan darahnya tinggi beberapa waktu yang lalu, maka hari itu saya bawa tensimeter untuk mengecek kondisi tekanan darahnya. Memang masih tinggi, 130/100 waktu itu. Sebetulnya saya ingin banyak bercerita dengan dia, tapi saya sedikit kikuk karena ada Ibunya juga di situ. Tapi saya berusaha larut aja dan mengajak Ibunya juga bercerita. Mendekatkan diri pada keluarganya untuk semakin merasakan kehangatan kasih sayang orang-orang, yang membuat saya makin percaya bahwa mudah untuk menemukan orang-orang yang bisa kita sayangi.

Tak lama kemudian Didy meminta saya untuk mengantarkan dia membeli tiket bus. Kita pun berboncengan menuju tempat pembelian tiket bus. Sepanjang perjalanan kita banyak ngobrol juga. Serasa adik dan kakak yang sudah lama tidak mengobrol.

Setibanya di rumah kembali, saya kembali berbincang-bincang dengan Ibunya. Bertanya tentang keluarga Didy yang rupanya anak-anak ibu Didy sudah bekerja dan tinggal di kota-kota yang berlainan. Mendengar cerita itu saya pun kembali termotivasi bahwa untuk meraih sesuatu yang besar, dibutuhkan juga perjuangan yang besar. Yah, hari sudah semakin sore. Ibu Didy berpesan kepada saya meskipun Didy sudah tidak di rumah, tapi ada baiknya saya tetap sering berkunjung di situ. Saya pun ditawari menginap hari itu. Dalam hati sebenarnya saya ingin sekali. Selain alasan karena saya belum izin orang tua dan meskipun izin kayaknya juga tetep ga boleh, ada alasan lain yang membuat saya tidak mau menginap: apa jadinya besok ketika saya kemudian ga rela buat ketemu lama sama Didy karena dia di perantauan sana!

Dan hari itu saya pun pulang. Sebenarnya ada satu hal yang membuat saya menjadi senang hari itu, kita sudah saling terbuka satu sama lain. Dalam hati saya berkata: ini bukan pertemuan terakhir, tapi awal yang baik untuk saling mengenal. Selalu saya hibur hati saya demikian. Saya berpesan pada Didy untuk hati-hati di Jakarta sana. Dia mengangguk dan berkata, "selama ada kakak saya di sana yang bisa jadi pengganti orang tua saya semua pasti akan baik-baik saja.". Ya, di sana dia memang tinggal bersama kakaknya. Saya pun mengangguk, dan berpamitan.

Hampa.

Rasanya seperti itu ketika di rumah. Seolah ada sesuatu yang akan hilang dan lama untuk kembali menemukannya. Bisa dibilang ini terlalu berlebihan, toh juga pada satu waktu nanti saya bisa ketemu lagi! Tapi saya kecewa karena pertemuan saya terlalu singkat! That's all.

Hari Selasa, 14 Juni 2011, saya pergi ke Jogja untuk mencari buku. Pulang pergi. Dan sepanjang perjalanan itu pula rasanya masih terasa Didy di belakang saya membonceng sambil bercerita-cerita dengan saya.

Dan akhirnya, sampai hari ini, saya berusaha untuk tetap menjaga komunikasi dengan Didy. Bayangan yang tidak-tidak berusaha saya tepiskan. Dia adik saya, demikian dalam hati saya selalu katakan. Kedekatan saya dengan dia yang seharusnya mungkin bisa terjalin dari dulu rupanya memang harus tertunda sebentar. Saya bangga karena sekarang dia sedang mencari cita-citanya jauh di sana. Dan yang bisa saya katakan kepada saya sendiri adalah saya harus mampu untuk berbuat seperti dia bahkan lebih. Saya harus lebih banyak belajar untuk bisa membanggakan orang-orang. Orang-orang yang saya cintai. Sekarang saya sudah menghibur diri. Meski kadang sempat merasa galau ketika dia jarang berkabar kepada saya. Yah, lagi-lagi pikiran "Siapa saya?!" muncul.

KLIK:
Just a day,
Just an ordinary day.
Just trying to get by.
Just a boy,
Just an ordinary boy.
But he was looking to the sky.
And as he asked if I would come along
I started to realize
That everyday he finds
Just what he's looking for,
Like a shooting star he shines.

He said take my hand,

Live while you can
Don't you see your dreams lie right in the palm of your hand

And as he spoke, he spoke ordinary words

Although they did not feel
For I felt what I had not felt before
And you'd swear those words could heal.
And as I looked up into those eyes
His vision borrows mine.
And I know he's no stranger,
For I feel I've held him for all of time.

And he said take my hand,

Live while you can
Don't you see your dreams lie right in the palm of your hand
In the palm of your hand.

Please come with me,

See what I see.
Touch the stars for time will not flee.
Time will not flee.
Can you see?

Just a dream, just an ordinary dream.

As I wake in bed
And the boy, that ordinary boy
Or was it all in my head?
Did he asked if I would come along
It all seemed so real.
But as I looked to the door,
I saw that boy standing there with a deal.

And he said take my hand,

Live while you can,
Don't you see all your dreams lie right in the palm of your hand
In the palm of your hand,
In the palm of your hand.

Just a day, just an ordinary day

Just trying to get by.
Just a boy,
Just an ordinary boy.
But he was looking to the sky.

To Didy: Baik-baik di sana. Besok kalau pulang ke Wonosobo berkabar ya!

0 Comments:

Posting Komentar

Designed by OddThemes | Blog by Barzam