Intoleransi Perasaan

JUMAT - 7 OKTOBER 2011

Well, ini saya sedang melirik taskbar di sebelah kanan bawah yang menunjukkan pukul 23:12. Hmm.. Barusan nonton film nih, judulnya Death Bell. Film Korea gitu deh, dan genre-nya adalah thriller. Well, belakangan ini saya memang sedang menjadi tipe orang yang begitu hedon hingga berusaha pokoknya membuat diri saya sesenang mungkin. Cuman ya sayangnya belakangan saya juga jadi agak-agak pemalas gitu. Astaga, haduh, harus dicharge lagi nih semangatnya! Well, balik lagi ke topik tadi, iya, memang hedonnya saya ga separah-parah amat sih. Kayak kemarin hari Kamis, pagi-pagi nontonin film Coming Soon, horror Thailand, meski udah pernah nonton tapi masih aja deg degan. Dan begitulah, dua hari ini saya lewati sebagai makhluk tersantai meskipun di tengah sibuknya kegiatan ina inu ina inu.


Mau cerita apa ya... Hmm.. Nothing special sih. Belakangan saya memang sudah agak mendingan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan. Meskipun saya akui saya masih sering dan lebih suka untuk berlama-lama di dalam kamar kos. Ga tau deh, mau berinteraksi sama tetangga-tetangga kamar kayaknya malas aja menginjakkan kaki keluar, duh kalau saya jadi asosial bagaimana nih? Huhuhu, besok mungkin saya akan mulai berkeliaran dari satu kamar ke kamar lain kali ya.

Sikap saya yang suka mengurung diri di kamar itu memang sebuah keunikan tersendiri buat saya. Saya jadi lebih terbiasa untuk menghadapi suasana bosan, setidaknya itu sisi positifnya. Tapi ga bosan-bosan amat sih, di kamar saya melakukan banyak hal dengan Whitnet. Satu-satunya hiburan saya ya si Whitnet ini. Sempat sih, saya berharap ada temen yang sering main ke kosan saya. Lebih spesifiknya main ke kamar kos saya, ya sekedar ngobrol-ngobrol aja gitu ya, tapi kenyataannya jarang banget yang datang. Mereka datang kalau lagi butuh tugas atau sesuatu aja. Ya udahlah gapapa. Lagian saya sebal, ga tau kenapa kalau ada teman yang datang ke kamar, ntar orang lain terus ngeledek "ciee langganan baru tuh" atau apalah... Mungkin itu salah satu sebab jarang ada teman yang mau main ke tempat saya. Tetangga kamar juga gitu, entahlah, mereka tu lebih prefer buat jadi orang yang didatangi ketimbang mendatangi. Sementara saya? Selalu aja mendatangi kamar mereka buat ina itu, padahal naik turun lantai dua itu capek. Iya, kamar saya ada di lantai dua, dan mungkin itu juga alasan mereka malas naik. Cuma ya itu, sebulan yang lalu mungkin saya akan sangat stress dengan kondisi ini, tapi sekarang saya sudah lebih baik. Setidaknya saya bisa menikmati privasi saya dengan lebih. Berbuat apa saja di kamar tanpa perlu ribut orang lain atau takut kamar berantakan dan harus menata ulang. Ahaha, itu sisi positifnya.

Tadi sore saya ada kegiatan recruitmen buat crew baru White Campus. Rupanya anak-anaknya lumayan banyak juga yang ikutan buat daftar UKM Jurnalistik ini. Sebenarnya jadwal recruitmen ini berbenturan sama jadwal DEMA/HIMA yang harus mempersiapkan kegiatan PMO. Dua-duanya sama penting, tapi berhubung White Campus itu UKM yang memang vital karena dia melingkup seluruh Poltekkes, jadi saya mohon izin ninggalin persiapan PMO. Tapi meski gitu saya tetap menyempatkan diri untuk sekedar menengok dan menanyakan apakah ada perubahan atau tidak mengenai kegiatan PMO besok. Yah, beginilah nasib mahasiswa yang 'kecemplung' ke lubang yang banyak. HIMA, White Campus, SHPEC...  Ngikutin tiga organisasi aja udah seriweuh ini. Huhuhu...

Oh iya, belakangan ini juga saya lagi sedih-sedihnya, atau lebih tepatnya sih galau. Hmm.. ini masalah pribadi sih. Masalah yang saya ciptakan sendiri. Jadi masalah ini antara saya dan diri saya. Loh, aneh banget ya?? Tapi begitulah. Well, kita mulai saja sesi inti yang mau jadi topik penting dalam posting kali ini..  (bisik-bisik: jadi panjang banget tadi itu cuma prolog, Zam?)

Yup, ada sedikit konflik hati. Saya punya seorang teman, dan teman itu kebetulan satu kelas dengan saya. Kuliah di Poltekkes Kemenkes Semarang adalah kuliah yang mungkin berbeda dengan kuliah di PT lain, di situ masih terkesan kayak sekolah menengah, dalam arti memang nuansa mahasiswanya belum kerasa banget. Yah, kayak di kelas saya ini, satu sama lain masih suka bergerombol, menciptakan kelompok-kelompok tertentu kayak geng ababil SMA... Hehe, no offense, tapi emang gitu sih. Sementara bagi manusia soliter macam saya, cuma melenggang lenggang ke sana kemari main tempel aja kalau ketemu gerombolan orang. Nah, balik lagi, teman saya itu sebenarnya tidak ada masalah sebelumnya. Namun kecamuk hati yang bikin saya ada insting ga baik kalau saya deket-deket sama dia.

Kamu tahu 'kan? Feeling semacam ada daya dalam tubuh kamu yang membuat kamu merasa untuk jangan dekat-dekat dengan dia meskipun secara sadar pikiran kamu berusaha biasa aja kalo ketemu sama dia. Ah, pas ngetik ini kebetulan lagu Vierra pas nyanyi: jujurlah padaku jujurlah padaku, kau menyimpan rasa kau menyimpan rasa ooo... Apadeh banget! Enggak mungkinlah saya naksir sama temen saya itu. Apa iya saya naksir? Huh, kagalah... Cuma ya keanehan itu, alias bisa kita sebut 'intoleransi perasaan' kalau dalam bahasa keperawatan, masih saja menjangkiti hati saya. Saya mau biasa aja sama dia, tapi begitu denger suara, lihat muka atau lihat polah atau segala sesuatu yang berhubungan dengan dia, saya jadi ngerasa ga suka. Mood saya rusak dan saya pengen lekas-lekas pergi aja. Ada apa dengan saya, Ya Allah... :'(

Tuhan penyayang umat-Nya. Memang saya selalu berdoa pada-Nya supaya saya selalu berada dalam lindungan-Nya. Semoga saja perasaan-ingin-selalu-menghindar itu adalah salah satu sinyal untuk saya supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan. Efek baik dari penghindaran ini memang saya jadi ga deket lagi sama temen saya itu dan menghindari hal-hal yang enggak-enggak. Ga deket kok malah efek baik, sih, Zam? Ya menurut saya baik kok...

Saya cuma bilang sama dia, kita berteman lewat teks aja mulai saat ini. Itu artinya bahwa mulai sekarang saya hanya mau berkomunikasi dengan dia cukup lewat teks saja. Ini saya lakukan karena saya benar-benar enggak bisa untuk bersikap biasa ketika saya ketemu dia secara langsung. Kalaupun kebetulan ada hal yang membuat saya harus menjawab apa yang dia ucapkan, entah sapaan atau pertanyaan, saya berusaha untuk menjawab tidak lebih dari sepuluh kata. Sungguh, saya pengen merasa enggak kenal dia dan enggak ngeliat dia... (Vierra: seandainya kau tahu, ku tak ingin kau pergi, ohowoo..)

Jadi maaf sajalah, buat temen saya yang satu itu. Iya, saya akui saya udah blok facebook kamu. Ini atas dasar pemikiran bahwa saya sudah memberikan dia kesempatan untuk berteman dengan saya lewat teks, saya kirimi dia pesan tapi dia tak pernah mau untuk kemudian berinteraksi. Kurang pekakah kamu, kawan? Sudahlah, saya tidak ingin memikirkan kamu lagi. Lha kok ini masih nulis? Ya, setidaknya supaya beban saya tercurahkan. (Vierra: salahkah aku terlalu cinta? Berharap semua kan kembali... Kau hancurkan aku seakan aku tak pernah ada)

Susah untuk dijelaskan, susah untuk digambarkan. Saya yakin pasti pernah ada di antara kalian yang juga mengalami ini. Ketika kamu merasa bahwa kamu sebenarnya ingin bersikap biasa saja, tapi kalian enggak bisa. Benar-benar ini yang disebut sebagai intoleransi perasaan. Entah, rencana keperawatan apa yang sebaiknya saya tuliskan untuk mengatasi masalah ini. Sebenarnya saya berharap teman saya itu peka dengan keadaan sekitarnya. Peka dengan apa yang saya pikirkan tentang dia. Peka untuk bertanya: "sebenarnya kamu kenapa, Zam?" atau paling tidak masih sempat untuk sering sms saya karena saya pernah bilang ke dia kita berteman lewat teks saja untuk sementara ini. Mungkin jika itu dia lakukan, selanjutnya saya akan biasa saja. Tapi ternyata enggak, saya dongkol sekali ketika sms saya sering tidak dibalas. Masih ingat banget waktu saya sms dia untuk datang ke acar buber dia nggak balas sms saya, sampai saya telpon diapun tidak mengangkatnya. Sejak itu saya benci banget buat menghubunginya. Saya juga ga suka dengan gayanya! Loh Zam! Apa-apaan kamu? Itu kan hak orang... Oops, iya benar, sorry, maaf, maaf, maksud saya saya ga suka sama gayanya yang kadang-kadang meniru-niru. Lho, siapa tahu dia meniru kamu karena kamu inspiratif? Tak tahulah, saya lega kalau dia yang bisa menjelaskan semuanya,

Pahit rasanya kalau tahu kita adalah tipe orang yang tidak rela ketika orang yang kita sayangi tidak berada dengan dekat kita atau harus dekat dengan orang lain. Apa maksudmu, Zam? Kamu suka sama dia? Ga tau deh... Sayang? Mungkinkah saya sampai sayang?? Stop, pikiran macam apa ini. Ini juga yang membuat saya harus menghindarinya. Ini salah satu alasan kenapa saya harus menghindarinya supaya tidak berada pada perasaan yang salah. Well, maaf...

Semuanya sudah terjadi. Dan sampai saat ini saya masih menunggu kepekaannya untuk kemudian bertanya pada saya apa yang terjadi. Saya sungguh berharap dia memberikan sedikit waktunya untuk kita berbicara empat mata. Tapi apakah mungkin? Saya sensi dengan sikapnya yang benar-benar kurang sensitif. Dia bilang dia berusaha mengerti, tapi sejauh apa sih dia mengerti??? Sudah saya berikan banyak sinyal tapi masih saja dia tidak sadar. Heh heh heh... Bercerminlah, Zam.. Kamu udah mencoba ngertiin dia belum?? Well, mungkin saya juga belum.. Tapi meski gitu, setidaknya saya pernah bertanya pada dia, kita kenapa sih jadi agak canggung kalau ketemu. Jawabnya hanya simpel: kamu selalu keliatan cemberut kalau liat aku. Stop, dan titik di situ, seolah tidak berusaha bertanya sebabnya. Dan saya pun semakin yakin kalau dia tidaklah sepeka yang saya bayangkan. Maka dari itu, ketimbang saya pusing mikirin orang yang bahkan belum tentu pernah memikirkan saya, lebih baik saya anggap saja ga pernah kenal. Lalala... Hidup saya masih fine fine aja kok.

Entah sampai kapan bakal kayak gini, saya udah ga ambil pusing. Kalau dia sadar, ya semoga sadar. Kalau enggak ya udahlah, biarin aja kayak gini. Saya udah bilang, masalah ini saya yang menciptakan sendiri. Ini masalah antara saya dengan diri saya sendiri, jadi cukup saya yang cari jalan keluarnya. OK? Kenapa harus mengorbankan dia? Ingat, kadang kita harus berkorban untuk sesuatu, benar kan?

Dan... Jam di taskbar sudut kanan sudah menunjuk pukul 23:59, sudah tengah malam. Sekarang saatnya untuk istirahat. Besok ada jadwal buat orientasi di RSUP Kariadi. Semoga saja besok menyenangkan. Met malem semua... :)

2 Comments

Designed by OddThemes | Blog by Barzam