Hari ini, 19 Agustus 2013, saya merasa benar-benar ambigu. Hell yeah, fase kehidupan itu memang sebuah sesuatu hal yang unik buat saya. Ada kalanya kita sedih, senang, merasa takut, merasa takjub.. dan kehilangan arah. Bahasa gue kok galau amat ya? Well, it's not that galau kok. Becoz alhamdulillah, puji Tuhan dan subhanallah maha suci Allah deh, hari ini bisa dipertemukan banyak dosen, seolah jawaban atas kegundahan hati ini.
Bagaimana enggak gundah? Usia 21 tahun bagi saya merupakan gerbang kehidupan sesungguhnya. Gerbang transisi dimana "kamu-harus-mulai-bertanggung-jawab-dengan-dirimu-sendiri". Mau enggak mau, suka enggak suka, sudah saatnya kemandirian menjadi hal nomor satu. Dan di sinilah kegundahan itu muncul. Saat tersentak bahwa apa yang selama ini saya lakukan terkadang masih terlalu absurd. Meletakkan passion menjadi seorang perawat is okay, but.. where I should place the finish line of my life?
Yup.. tujuan akhir dari hidup saya.
Keabsurdan itu kemudian semakin menjadi, dan memikirkannya kadang ingin merasa mual. Tapi saya tahu, kecemasan bukanlah hal yang baik untuk dipelihara. Jadi, saya selalu berusaha menenangkan diri untuk mencoba menemukan fokus, agar saya benar-benar bisa menetapkan goal kehidupan saya. Saya tahu kita ga boleh terlalu khawatir dengan masa depan, the best thing that we have to always keep in mind is.. try to always think what we should do now.
Banyak pertanyaan dari dosen mengenai rencana saya ke depan. So this is just a litle thing that maybe can be my really dreams and hopes :)
Peta hidup ke depan saya secara singkat adalah, untuk beberapa tahun ke depan saya ingin mencari jam terbang sebagai perawat, mengumpulkan uang untuk bisa melanjutkan studi di UI dan meraih gelar S1 di sana. Entah mengapa, tapi ada semacam dorongan bahwa saya harus bisa memiliki gelar S1. I hope this "near-goal-project" can be really happen. Dimana saat saya berkuliah nanti, at least saya sudah memiliki banyak tabungan untuk biaya kuliah selama 2-3 tahun.
Usai meraih gelar S1, saya benar-benar berharap bisa melanjutkan jam terbang ke luar negeri. Negara target saya adalah Australia. I wanna live there! I don't know but I just feel it. I just want to stay there. The kangooroo country. Di sana saya ingin memiliki rumah, keluarga yang bahagia dan berpekerjaan sebagai perawat. Sungguh sebuah cita-cita saya ingin menetap di Australia. Di Australia nantinya, saya ingin terus melanjutkan pendidikan keperawatan saya hingga meraih gelar paling tidak S2.
Dan suatu saat nanti, jika saya harus kembali ke Indonesia, saya ingin menjadi seorang dosen. Di negara ini, akan saya bangun generasi-generasi yang bisa membangkitkan citra perawat, membangkitkan spirit Florence Nightingale, mengobarkan nyala lilin 24/7 yang mungkin saat ini sedang bertiup-tiup.
Dan.. Bismillah. Saya tidak tahu bagaimana tapi saya akan selalu menyerahkan semuanya kepada Allah, Tuhan Semesta Alam. Saya bersyukur atas jalan yang selalu ia berikan kepada saya secara tidak terduga. Dalam prosesnya mungkin akan selalu ada rintangan, tapi sungguh kemudahan itu ada karena kesulitan. Saya berharap, saya bisa selalu menikmati proses itu, meraih cita-cita yang saat ini saya tuliskan.
Thanks to Mr. Rodhi Hartono, Mrs. Lucia Endang Hartati & Mr. Hudiono, and all lecturers that I want to meet them later. I want to prove that Me, Barzam Fathan, can get the RN and show you all that I really wanna be professional nurse, who always thirst to drink those knowledge water, and always want to learn everything with curiosity, passionate to care people, understanding them. And the most... always make my parents proud that they have their son as a nurse who will care them every single day. Bismillah, Ya Allah, the God Almighty, thanks for Your road chosen to me to be on this track, I want to be a professional nurse, a really good looking performance. I use those blue uniform of nurse, with a bright face enlightening patient to always smile in their sickness. With the knowledge lock in my mind to always care people. :)

0 Comments:
Posting Komentar